Mari bernostalgia
Hi ini aku, seorang anak laki
tinggal di desa.
Hati kecil ini ingin
menceritakan sebuah keceriaan dari kehidupan di desa.
Akan tetapi, perbedaan
pendapat menjadi ciri khas manusia yang berbeda-beda.
Sontakan demi sontakan
pun tiba dan mereka pun menertawakan, hei apa ada kesenangan di desa? Mereka
menganggap kehidupan di kota adalah hal yang terbaik sepanjang masa.
Ku sontak balik pada mereka,
hei kamu! Pernahkah kamu mengalami hal yang menyenangkan seperti dalam
ceritaku.
Lalu ku bernostalgia,
pada waktu itu ditahun 2010, aku yang masih anak-anak dan umurku yang masih 10
th pula, zaman itu bagaikan zaman purba yang udah punah dan hanya bisa dikenang.
Air kemercik tanda kan
suara kran terbuka, suara berkokok tanda kan mentari mulai menunjukkan sinarnya.
Hari ini hari minggu,
hari yang sangat kutunggu-tunggu. Duduk depan televisi dan menyangga sepiring
nasi sarapan adalah hobi pagiku.
Kartun demi kartun pun
tertonton, waktu berjalan sangat cepat, tak berasa teriknya mentari disiang hari
pun tiba .
Itu tandanya waktu
petualangku tiba, kami berkumpul di lapangan tempat beradu domba. Benda favorit
kami berbentuk bundar. Aku tahu kok, kamu bisa menebaknya.
Gawang dari sandal
merupakan saksi bisu bagi kita, pakaian lusuh merupakan tanda gigihnya perjuangan
kita.
Penjaga gawang punya tugas lain sebagai pengambil bola yang ter hembus ke angkasa.
Pada waktu itu dimarahin hanyalah permasalahan bagi kita, karena berhentinya pertandingan di tandai dengan di kumandangkan adzan magrib.
Tanpa merasa bersalah ataupun berdosa aku langsung mandi dan meninggalkan baju kotorku di bak, lalu ke esok harinya sehelai kain dari pakaian itu pun tak tersisa.
Sungguh cinta ibu
sepanjang masa tak dapat terrobohkan meski banjir bandang pun menghampirinya.
Ini bukanlah sebuah alunan puisi, kau tahu aku bukanlah seorang penyair.
Ini hanya sebuah narasi
yang mengandung unsur nostalgia.
Lalu, bagaimana dengan
nostalgiamu?
Tulis di kolom komen
ya!...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar